Sabtu, 08 Agustus 2009

Semoga Indonesia bisa aman

Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: ignyudi.saputra@gmail.com

Date: Sat, 8 Aug 2009 23:47:08
To: <ignyudi.saputra.blog@gmail.com>
Subject: Semoga Indonesia bisa aman


Hari sabtu, 8 agustus 2009 menjadi sebuah hari yang bersejarah untuk Indonesia menurut saya. Noordin M Top gembong teroris yang selama ini menghantui bangsa ini diperkirakan tewas tertembak disebuah rumah didaerah Temanggung-Jawa Tengah.
Salut untuk Polisi Densus 88 yang gagah berani menumpas teroris di negeri ini.
Hidup Indonesia...
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Sabtu, 18 Juli 2009

Test posting

Test posting lagi
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kamis, 27 September 2007

Toilet Bandara Ngurah Rai Raih 'Toilet Terbersih' Se-Indonesia

Kapanlagi.com -
Bandara Ngurah Rai Bali meraih peringkat pertama penghargaan toilet umum terbersih di antara 12 bandara internasional di Indonesia. Pemberian penghargaan dilakukan langsung oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik didampingi oleh Ketua Dewan Juri Gerakan Nasional Toilet Umum bersih Naning Adiwoso di Kantor Depbudpar di Jakarta, Kamis (27/9).
Sementara itu Bandara Intenasional Soekarno-Hatta hanya menempati peringkat keempat setelah Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru yang meraih peringkat kedua dan Bandara Hang Nadim Otorita Batam yang meraih posisi ketiga.
Kemudian berturut-turut Bandara Sepinggan Balikpapan menempati peringkat kelima, Bandara Hasanudin Makassar peringkat keenam, Bandara Juanda Surabaya peringkat ketujuh, Bandara Sam Ratulangi Manado peringkat kedelapan, Bandara Minangkabau Padang peringkat kesembilan, Bandara Supadio Pontianak peringkat kesepuluh, Bandara Polonia Medan menempati peringkat terakhir kesebelas.
Sedangkan Bandara El-Tari Kupang memperoleh penghargaan khusus karena melakukan usaha-usaha agar toilet umumnya bersih meski di tengah kesulitan mendapatkan air di lokasi bandara.
Penghargaan tersebut merupakan bagian dari gerakan nasional toilet umum bersih yang dicanangkan oleh Depbudpar sejak 17 Februari 2006 di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta.
Menbudpar menjelaskan program gerakan nasional toilet umum ini didasari bahwa toilet terutama toilet di bandara internasional merupakan tempat pertama yang disinggahi wisatawan asing setelah mendarat di bandara.
"Toilet menjadi welcoming space bagi turis yang pertama kali datang ke Indonesia sehingga turis tersebut akan menilai Indonesia lewat welcoming space itu," kata Jero Wacik.
Dia mencatat sekitar 70 persen turis akan mencari toilet pada kesempatan pertama ketika tiba di suatu bandara. Oleh karena itu, Menbudpar mendesak kepada kepala daerah, gubernur, bupati dan walikota yang mempunyai bandar udara di wilayahnya agar menjaga kebersihan toilet umum bandaranya bila ingin dinilai baik oleh wisatawan mancanegara.
Dia mengatakan gerakan nasional toilet umum ini akan dilanjutkan pada bandara-bandara nasional dan juga pada obyek-obyek wisata di seluruh Indonesia.
"Akhir 2007 nanti kita akan lanjutkan gerakan nasional toilet umum bersih ini ke bandara-bandara dan destinasi wisata nasional," tambah Jero Wacik. (*/boo)

Selasa, 25 September 2007

Harta Karun Untuk Semua

Harta Karun untuk semua
----------------------------
(oleh Dewi Lestari)

Hari ini kiriman buku yang saya pesan dari Amazon.com datang.
Ada satu bukuyang langsung saya sambar dan baca seketika. Judulnya: "Stuff - TheSecret Lives of Everyday Things".
Buku itu tipis, hanya 86 halaman, tapiinformasi di dalamnya bercerita tentang perjalanan ribuan mil dari manabarang-barang kita berasal dan ke mana barang-barang kita berakhir.
Dimulai sejak SD, saat saya pertama kali tahu bahwa plastik memakan wakturatusan tahun untuk musnah, saya sering merenung: orang gila mana yangmencipta sesuatu yang tak musnah ratusan tahun tapi masa penggunaannyahanya dalam skala jam-bahkan detik? Bungkus permen yang hanya bertahansepuluh detik di tangan, lalu masuk tong sampah, ditimbun di tanah dan baruhancur setelah si pemakan permen menjadi fosil.
Sukar membayangkan apa jadinya hidup ini tanpa plastik, tanpa cat, tanpadeterjen, tanpa karet, tanpa mesin, tanpa bensin, tanpa fashion. Dansebagai konsumen dalam sistem perdagangan modern, sejak kita lahir rantaipengetahuan tentang awal dan akhir dari segala sesuatu yang kita konsumsitelah diputus. Kita tidak tahu dan tidak dilatih untuk mau tahu ke manakemasan styrofoam yang membungkus nasi rames kita pergi, berapa banyakpohon yang ditebang untuk koran yang kita baca setengah jam saja, bebanpolutan yang diemban baju-baju semusim yang kita beli membabi-buta.
Untuk aktivitas harian yang kita lewatkan tanpa berpikir, yang terasawajar-wajar saja, pernahkah kita berhitung bahwa untuk hidup 24 jam kitabisa menghabiskan sumber daya Bumi ini berkali-kali lipat berat tubuh kitasendiri?
Untuk menyiram 200 cc air kencing, kita memakai 3 liter air. Untuk mencucisecangkir kopi, kita butuh air sebaskom. Untuk memproduksi satu lapisdaging burger yang mengenyangkan perut setengah hari dibutuhkan sekitar2,400 liter air. Produksi satu set PC seberat 24 kg yang parkir di atasmeja kerja kita menghasilkan 62 kg limbah, memakai 27,594 liter air, danmengonsumsi listrik 2,300 kwh. Bagaimana dengan chip kecil yang bekerja didalamnya? Limbah yang dihasilkan untuk memproduksinya 4,500 kali lipatlebih berat daripada berat chip itu sendiri.
Mengetahui mata rantai tersembunyi ini bisa menimbulkan berbagai reaksi.Kita bisa frustrasi karena terjepit dalam ketergantungan gaya hidup yangtak bisa dikompromi, kita bisa juga semakin apatis karena tidak mau pusing.Yang jelas, sesungguhnya ini adalah pengetahuan yang sudah saatnya dibuka.Pelajaran Ilmu Alam, selain belajar penampang daun dan membedah jantungkatak, dapat dibuat lebih empiris dengan mempelajari hulu dan hilir daribenda-benda yang kita konsumsi, sehingga tanggung jawab akan alam ini telahdisosialisasikan sejak kecil.
Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki gedung FO empat lantai, PasarBaru, atau berjalan-jalan ke Gasibu pada hari Minggu di mana ada lautanPKL: tidakkah semua baju dan barang-barang itu mampu memenuhi kecukupanpenduduk satu kota ? Tapi kenapa barang-barang ini tidak ada habisnyadiproduksi? Setiap hari selalu ada jubelan pakaian baru yang menggelontoripasar. Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki hypermarket dan melihatratusan macam biskuit, ratusan varian mie instan, dan ratusan merk sabun:haruskah kita memiliki pilihan sebanyak itu?
Pernahkah kita merenung, apa yang kita inginkan sesungguhnya jauh melebihiapa yang kita butuhkan?
Atas nama kecukupan, satu manusia bisa hidup dengan lima pasang baju dalamsetahun, bahkan lebih. Atas nama fashion, jumlah itu menjadi tidakberbatas. Atas nama kebutuhan, satu manusia bisa hidup dengan beberapapilihan panganan dalam sehari. Atas nama selera dan nafsu, seisi Bumi tidakakan sanggup memenuhi keinginan satu manusia.
Permasalahan ini memang bisa dilihat dari berbagai kaca mata. Seorangekonom mungkin akan menyalahkan sistem kapitalisme dan globalisasi. Seorangsosialis akan mengatakan ini masalah distribusi dan pemerataan. Tapi jikakita runut, satu demi satu, bahwa Bumi adalah kumpulan negara, negaraadalah kumpulan kelompok, dan kelompok adalah kumpulan individu,permasalahan ini akan kembali ke pangkuan kita. Dan kesadaran sertakemauan kitalah yang pada akhirnya akan memungkinkan sebuah perubahansejati.
Belum pernah dalam sejarah kemanusiaan keputusan harian kita menjadi sangatmenentukan. Tidak perlu menunggu Amerika menyepakati protocol Kyoto, tidakperlu juga menunggu penjarah hutan tertangkap, setiap langkah kita-memilihmerk, kuantitas, tempat, gaya hidup-adalah pilihan politis dan ekologisyang menentukan masa depan seisi Bumi.
Saya belum bisa mengorbankan komputer karena itulah instrumen saya bekerja,tapi saya bisa lebih awas dengan jam penggunaan dan mematikannya jika tidakperlu. Saya belum bisa mengorbankan kebutuhan akan informasi, tapi sayabisa memilih membaca berita lewat internet atau membaca koran di tempatpublik ketimbang berlangganan langsung. Bagaimana dengan fashion?Di dunia citra ini, dengan profesi yang mengharuskan banyak tampil di mukapublik, saya pun belum bisa mengorbankan keperluan fashion (baca: membelibusana lebih sering dari yang dibutuhkan), tapi saya bisa membuat komitmendengan lemari pakaian, yakni baju yang saya miliki tidak boleh melebihikapasitas lemari saya. Jika lebih, maka harus ada yang keluar. Dan setiapbeberapa bulan saya dihadapkan pada kenyataan bahwa ada baju yang tidaksaya pakai setahun lebih atau baju yang cuma sekali dipakai dan tak pernahlagi. Bukan cuma baju, ada juga buku, pernik rumah, alat dapur, bahkansabun dan sampo yang utuh tak disentuh.
Alhasil, dalam rumah saya ada semacam peti-peti 'harta karun', yangberisikan barang-barang yang harus keluar dari peredaran, karena jikadipertahankan hanya menjadi kelebihan tanpa lagi unsur manfaat. Harta karunini lantas harus dicarikan lagi outlet untuk penyaluran.
Pada waktu perayaan 17 Agustus, di kompleks saya diselenggarakan bazaar.Para warga menyewa stand untuk berjualan. Saya ikut berpartisipasi, dansayalah satu-satunya penjual barang bekas di antara penjual barang-barubaru. Karena bukan demi cari untung, barang-barang itu saya lepas denganharga sangat murah. Yang membeli bukan cuma warga kompleks, tapi juga darikampung sekitar. Hari pertama, saya sudah kehabisan dagangan. Terpaksa sayamengontak saudara-saudara saya yang barangkali juga punya barang bekasuntuk disalurkan. Sama dengan saya, mereka pun punya timbunan harta karunyang entah harus diapakan. Stand saya menjadi salah satu stand paling larisselama bazaar berlangsung. Dan kakak saya terkaget-kaget dengan penghasilanyang ia dapat dari tumpukan barang yang sudah dianggap sampah.
Berjualan di bazaar tentu bukan satu-satunya jalan, ada aneka cara kreatiflain untuk memanfaatkan harta karun kita, termasuk juga disumbangkan ..Namun yang lebih sukar adalah memulai membuat komitmen-komitmen pembatasandiri. Berkomitmen dengan rak buku, dengan lemari pakaian, dengan rak kamarmandi, dengan laci dapur, dan pada intinya... dengan diri sendiri. Siapkahkita menentukan batasan dan berjalan dalam koridor itu?
Dan, yang lebih susah lagi, adalah pengendalian diri dari awal bersua anekapilihan yang membombardir kita setiap hari, lalu sadar dan mawas akanrantai sebab-akibat yang menyertai pilihan kita. Membuka diri untuk infodan pengetahuan ekologi adalah salah satu cara pembekalan yang baik.Walaupun sekilas tampak merepotkan dan bikin frustrasi, tapi kantong kresekyang kita buang tadi pagi tidak akan hilang oleh sihir, dan hamburger yangkita makan tidak dipetik dari pohon. Rantai yang menyertai barang-barangitu tidak akan hilang hanya karena kita menolak tahu.
Banyak orang yang berkomentar pada saya, " Aduh , Wi . Kamu bikin hidup tambahsusah saja." Dan mereka benar. Hidup ini tak mudah. Untuk itu kita justruharus belajar menghargai setiap jengkalnya. Memilih hidup yang lebihsederhana, hidup dengan tempo yang lebih pelan, hidup dengan pengasahankesadaran, tak hanya membantu kita lebih eling dan terkendali, tapi jugamembantu Bumi ini dan jutaan manusia yang dijadikan alas kaki oleh industridemi pemenuhan nafsu konsumsi kita sendiri.
Lingkaran setan? Ya. Tapi tidak berarti kita tak sanggup berubah.Selama ini kita adalah pembeli yang berlari. Dalam kecepatan tinggi kitabertransaksi, sabet sana sabet sini, tanpa tahu lagi apa yang sesungguhnyakita cari.Berhentilah sejenak. Marilah kita berjalan.